Sabtu, 14 April 2012

Makalah Angkutan Laut


BAB I
PENDAHULUAN

Transportasi laut (Angkutan laut) berperan penting dalam dunia perdagangan internasional maupun domestik. Transportasi laut juga membuka akses dan menghubungkan wilayah pulau, baik daerah yang sudah maju maupun daerah yang masih terisolasi. Sebagai negara kepulauan (archipelagic state), indonesia memang sangat membutuhkan transportasi laut.
Allega (2001) dalam perspektif geografis mengingatkan bahwa tantangan globalisasi yang berkaitan dengan kelautan adalah transportasi laut, sistem komunikasi, urbanisasi di wilayah pesisir, dan pariwisata bahari. Karena itu diperlukan kebijakan kelautan yang mengakomodasi  transportasi laut disebuah negeri bahari.
Perkembangan transportasi laut di Indonesia sampai saat ini masih dikuasai oleh pihak asing. Di bidang transportasi laut, Indonesia ternyata belum memiliki armada kapal yang memadai dari segi jumlah maupun kapasitasnya. Data tahun 2001 menunjukkan, kapasitas share armada nasional terhadap angkutan luar negeri yang mencapai 345 juta ton hanya mencapai 5,6 persen. Adapun share armada nasional terhadap angkutan dalam negeri yang mencapai 170 juta ton hanya mencapai 56,4 persen. Kondisi semacam ini tentu sangat mengkhawatirkan terutama dalam menghadapi era perdagangan bebas.








BAB II
uraian

2.1.      Perkembangan Angkutan Laut
Pelayaran komersial atau niaga dimulai sekitar 300 tahun SM, bersamaan dengan tumbuhnya kegiatan perdagangan disekitar laut tengah. Bangsa Mesir adalah yang pertama kali melakukan pelayaran komersial tersebut. Kemudian diikuti oleh bangsa Yunani sekitar 500 tahun SM.
Pelayaran antar benua terjadi setelah bangsa Spanyol dan Portugis berhasil membuka hubungan antara eropa dengan asia dan afrika, kemudian diikuti oleh belanda, inggris, dan perancis yang melakukan kegiatan perdagangan antar bangsa.
Di Indonesia peranan angkutan laut sangat penting artinya karena indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki 17.508 pulau. Membina angkutan laut tidak hanya memperlancar hubungan antar pulau/daerah yang merupakan satu kesatuan wilayah (wawasan nusantara), tetapi juga akan membuka sumber-sumber kehidupan rakyat yang lebih luas dan lebih merata diseluruh wilayah.
Dari tahun 1988 sampai dengan 1993 terjadi penambahan jumlah perusahaan pelayaran yang sangat pesat, baik pelayaran Nusantara maupun pelayaran Lokal. Hal ini mengakibatkan terjadinya persaingan yang tidak sehat dalam memperebutkan muatan, berupa discount tarif dan sebagainya. Terlalu banyaknya perusahaan pelayaran menimbulkan kesukaran dalam pembinaan karena sebagian besar perusahaan dalam keadaan yang tidak sehat, sehingga perlu disederhanakan/dikurangi jumlah perusahaan untuk pengembangan kearah yang lebih sehat/produktif.
Hasil monitoring perkembangan perusahaan pelayaran tahun 1993 menunjukkan jumlah perusahaan pelayaran yang telah memiliki SIU sejumlah 1.057 perusahaan, meningkat 94,65% dari tahun 1992. Perusahaan pelayaran rakyat sejumlah 583 perusahaan dan perusahaan non pelayaran yang memiliki SIOPN sebanyak 399 perusahaan. Disamping itu, terdapat perusahaan penunjang angkutan laut, yaitu:
1.      Perusahaan bongkar muat (PBM) meningkat dari 432 perusahaan pada tahun 1988 menjadi 844 pada tahun 1993 atau naik 95%.
2.      Perusahaan ekspedisi muatan kapal laut (EMKL) meningkat dari 395 perusahaan pada tahun 1989 menjadi 826 perusahaan pada tahun 1993 atau naik 103,8%.
3.      Perusahaan jasa pengurusan transportasi (JPT) meningkat dari 386 perusahaan pada tahun 1989 menjadi 916 perusahaan pada tahun 1993 atau naik 109,5%.
4.      Pembentukan koperasi tenaga kerja bongkar muat (TKBM) per desember 1993 tercatat sebanyak 161 koperasi TKBM dengan jumlah tenaga kerja bongkar muat (TKBM) sebanyak 49.124 orang.
Perkembangan setiap jenis perusahaan angkutan laut dari tahun 1988-1993 terlihat pada tabel berikut:
Tabel 2.1
Perkembangan Perusahaan Angkutan Laut
No
Jumlah Perusahaan
Jenis Usaha
1988
1989
1990
1991
1992
1993
1
Perusahaan pelayaran
543
521
692
839
939
1.057
2
Pelayaran rakyat
406
430
462
608
616
583
3
Nonpelayaran
200
1.993
258
323
359
399
4
PBM
432
571
6.990
747
796
844
5
EMKL
443
395
537
616
652
826
6
JPT
-
386
447
569
622
914
7
Koperasi TKBM
-
-
155
156
161
161
Sumber : Laporan Tahunan Departemen Perhubungan 1993/994
Keberhasilan pembangunan menyebabkan meningkatnya produksi diberbagai sektor dan hal ini menyebabkan muatan angkutan laut dari tahun ketahun mengalamipeningkatan pula.
Dalam pelita IV muatan angkutan laut telah berkembang dari 171.198.139 T/ , pada tahun 1983 menjadi 202.793.049 T/ , pada tahun 1988 yang berarti rata-rata naik 4,6% per tahun. Dengan demikian, ditinjau dari perkembangan muatan angkutan laut menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Perkembangan muatan angkutan laut sejak tahun 1983 sampai dengan 1993 dapat diketahui pada Tabel 2.2 berikut.






Tabel 2.2
Perkembangan Muatan Angkutan Laut 1987 s/d 1993
Tahun
Jenis Muatan
Jumlah
Total
Share (%)
Nasional
Asing
Nasional
Asing
1987
DRY CARGO
LIQ CARGO
36.513.340
32.120.364
  28.748.729
  96.242.829
  65.262.069
128.363.193
56
25
44
75
Jumlah
68.633.704
124.991.558
193.625.262
35
65
1988
DRY CARGO
LIQ CARGO
36.074.485
32.954.246
  92.040.224
1o4.723.094
  65.114.709
137.678.340
55
24
45
76
Jumlah
69.028.731
133.764.318
202.793.049
34
66
1989
DRY CARGO
LIQ CARGO
29.316.147
28.663.478
  39.733.982
111.452.009
  69.050.129
140.115.487
42
20
58
80
Jumlah
57.979.625
151.185.991
209.165.616
     28
    72
1990
DRY CARGO
LIQ CARGO
40.758.618
27.807.572
  46.658.921
117.870.396
587.417.539
145.677.968
     47
     19
    53
    81
Jumlah
68.566.190
164.529.317
233.095.507
     29
    71
1991
DRY CARGO
LIQ CARGO
41.791.366
33.252.148
  66.160.553
144.645.581
107.951.919
177.897.729
     39
     19
    61
    81
Jumlah
75.043.514
210.806.134
285.849.848
     26
    74
1992
DRY CARGO
LIQ CARGO
46.349.837
32.850.417
86.721.245
147.563.076
133.071.082
180.413.493
     35
     18
    65
    82
Jumlah
79.200.254
234.284.321
313.484.575
     25
    75
1993
DRY CARGO
LIQ CARGO
50.275.125
32.917.546
114.681.034
148.462.415
164.956.159
818.379.961
     30
     18
    70
    82
Jumlah
83.192.671
263.140.449
346.336.120
     24
    76

2.2.      Ciri-ciri Angkutan Laut, Klasifikasi, dan Kapasitas Kapal
            Ciri-ciri pengangkutan laut adalah sebagai berikut:
a)      Jumlah muatan barang maupun penumpang yang diangkut dalam jumlah yang besar dan jarak yang jauh.
b)      Biaya angkutan relatif lebih murah atau rendah.
c)      Kecepatan berlayar rendah atau lambat, hanya mencapai 15 – 20 mil laut/jam.
d)      Banyaknya handling cargo yang mengalami beberapa kali pengalihan pada waktu dimuat ke kapal sampai dengan tujuan.
Kapal sebagai fasilitas operasi/sarana angkutan, dilihat dari penggunaannya dibedakan atas kapal penumpang dan kapal barang.
1.      Kapal Penumpang
Perkembangan kapal penumpang terjadi sewaktu meningkatnya arus imigrasi dari Eropa ke Amerika dan Australia pada awal abad ke-19. Kapal penumpang juga melayari secara teratur arus penumpang antara eropa dengan daerah koloni di asia dan afrika.
2.      Kapal Barang
Kapal barang terdiri atas ruang palka yang dapat memuat berbagai jenis barang dan dilengkapi dengan peralatan bongkar muat barang. Kemajuan teknologi kapal barang terjadi sekitar tahun 1960 dengan kapasitas kapal sampai 200 DWT yang digerakkan dengan mesin berkekuatan besar, ruang palka yang besar, dan peralatan bongkar muat yang sempurna.
Berbagai jenis kapal barang dapat dibedakan sebagai berikut:
a.       Kapal general cargo, yang terdiri atas:
·         Kapal container
·         Kapal Ro-Ro (Roll on and Roll off)
·         Kapal Lash atau kapal tongkang
·         Kapal dry bulk cargo
b.      Kapal tanker
c.       Kapal bulk cargo (barang-barang curah)
d.      Kapal serba guna (multi purpose vessel)
Kapal Container
Kapal ini mempunyai ruang datar yang luas untuk memuat peti kemas yang diangkut dari dan ke dermaga dengan menggunakan trukdan menggunakan crane khusus serta dilengkapi dengan komputer agar penyusunan diruang kapal dapat disesuaikan dengan tujuan dari setiap peti kemas. Kapal container berkapasitas sekitar 25.000 DWT, panjang rata-rata 180-210 meter dengan kecepatan sekitar 33 knots/jam. Daya angkut mencapai empat kali daya angkut kapal barang biasa (konvensional) dan proses bongkar muat barang lebih cepat.
               Kapal Ro-R0
            Kapal ini merupakan penyempurnaan dari kapal container yang dilengkapi peralatan dengan roda untuk memudahkan pengaturan container didalam kapal tersebut. Prinsip pada kapal Ro-Ro adalah bahwa barang-barang yang diangkut ditempatkan diatas trailer atau rolling stock lainya, dan trailer rolling stock berikut barang diatasnya ditarik oleh sebuah traktorkedalam kapal dan sebaliknya. Keuntungan dari angkutan ini adalah bahwa waktu muat/bongkar dapat dipersingkat.
Kapal Lash
Merupakan kapal container yang dapat beroperasi sendiri setelah dilepas dari kapal induknya berupa tongkang-tongkang. Hal ini disebabkan karena kapal tidak dapat merapat ke dermaga karena keadaan dermaga yang bersangkutan tidak memungkinkan.
Kapal Dry Bulk Cargo (Kapal Barang kering curah)
Merupakan kapal yang mengangkut barang-barang curah seperti batu bara, bijih besi, dan hasil tambang lainya.
Besarnya angkutan tergantung pada sifat barang yang diangkut, jenis alat angkut, jarak yang ditempuh, dan kecepatan rata-rata.
a.       Sifat barang yang diangkut
Sifat barang yang diangkut mencakup sifat fisik, berat, isi dan bentuk, menguap, mencair, dan sebagainya serta nilainya diukur dalam satuan mata uang.
b.      Jenis alat angkutan
Jenis alat-alat angkutan mencakup sifat fisik dari alat angkutan yang bersangkutan, apakah alat tersebut bergerak didaratan, dilaut, atau diudara. Alat angkutan laut dapat dikelompokan dalam jenis kapal-kapal penumpang, kapal barang, tanker, kapal pantai, kapal samudera. Jenis alat angkut tertentu, menunjukan kapasitas angkut dengan jenis muatan yang tertentu pula.
c.       Jarak yang ditempuh
Jarak yang ditempuh mencakup kondisi fisik yang menunjukkan, apakah pada waktu tertentu jarak A-B dapat ditempuh melalui darat, laut, udara, atau kombinasi. Kondisi jarak yang harus ditempuh oleh kapal dipengaruhi oleh kondisi perairan, alur, kedalaman, karang, dan ombak.
d.      Kecepatan rata-rata
Kecepatan rata-rata secara normal menunjukkan kemampuan alat angkut untuk mengangkut muatan sesuai dengan jenisnya dalam waktu rata-rata yang diperlukan dimana waktu berhenti untuk mengisi bahan bakar telah diperhitungkan.
               Jenis kapal yang efisien penggunaanya adalah sebagai berikut:
1)      Kapal yang mengangkut barang terurai (bulk cargo), yaitu barang angkutan yang besar dan volumenya besar, tetapi mudah bongkar muatnya.
2)      Kapal yang mengangkut barang-barang yang tidak begitu tinggi nilainya dengan jarak yang jauh.

2.3.      Biaya Operasi Angkutan Laut
            Jumlah biaya jasa angkutan tergantung pada:
Ø  Jarak dalam ukuran ton – kilometer
Ø  Tingkat penggunaan kapasitas angkutan dalam ukuran waktu
Ø  Sifat khusus muatan
Faktor utama yang menentukan struktur biaya atau harga usaha pelayaran (shipping), dapat dijelaskan oleh model dibawah ini, yang berlaku bagi harga jasa angkutan sebanyak 1 ton muatan antara dua pelabuhan (2-port system) yang jarak J mil sama diumpamakan bahwa kapal beroperasi antara dua pelabuhan (Abbas 1993:181).
J = Jarak antara kedua pelabuhan (mil)
F = Biaya Tetap (fixed cost) per tahun
V = Kecepatan berlayar (knot-mil/jam)
C = Kapasitas angkut kapal (ton)
q = persentase muat rata-rata (overage load factor)
B = kecepatan bongkar/muat (ton/jam)
U = waktu deviasi dan waktu manuver (jam per perjalanan)
T = waktu kerja efektif keseluruhan (jam per tahun)
r = biaya berlayar (distance cost) dari kapal per mil
s = biaya bongkar/muat per jam
t = biaya pelabuhan tiap kali singgah (per call)
Selain variabel-variabel tersebut di atas, terdapat pula biaya variabel lain yang berhubungan dengan variabel-variabel diatas yang perlu diperhitungkan, yaitu:
N = jumlah perjalanan per tahun
M = jumlah muatan yang di angkut (ton per tahun)
K = harga jasa angkutan per muatan
Dengan menggunakan simbol-simbol diatas, rumus untuk menghitung biaya angkutan per ton kapal antar pelabuhan yang berjarak J mil sebagai berikut:
               K = F + J.r.N +
Jumlah perjalanan per tahun dapat dinyatakan dengan rumus:
               N =
Jumlah muatan (dalam ton) yang diangkut per tahun menjadi:
            M = C.q.N  atau
            M =
Untuk menghitung total cost per unit (ton-km) digunakan rumus:
               TC =
Di mana: TC = total cost per unit (ton-km)
                                                operating movement cost
      = (biaya-biaya yang dikeluarkan selama kapal dalam pelayaran)
                                       D   = jarak
                                       I    = detention cost
     = (biaya yang dikeluarkan selama kapal dipelabuhan)
   Untuk menghitung operating movement) adalah:
                       =  
   Di mana:          mc = total cost selama dalam pelayaran
                           mt = waktu/lamanya berlayar
                           C   = jumlah muatan yang diangkut (ton)
                           D   = jarak yang ditempuh (km)
  
Untuk menghitung idling cost/detention cost (I) adalah:
                      I  =     
   Di mana:          ic = total biaya selama dipelabuhan
                           it = lama berlabuh
                           C = jumlah muatan yang diangkut
2.4.      Peramalan Lalu Lintas Barang dan Jumlah Kapal
Peramalan dari suatu variabel atau beberapa variabel pada masa yang akan datang sangat diperlukan sebagai dasar atau pedoman dalam pembuatan rencana transportasi masa datang. Hal seperti ini adalah berlaku bagi setiap organisasi yang menginginkan tercapainya ketahanan usaha, efisiensi, dan efektivitas yang mantap.
Data arus lalu lintas barang antar pelabuhan dari tahun-tahun yang lalu merupakan informasi untuk meramalkan arus lalu lintas antar pelabuhan pada tahun yang akan datang. Dalam meramalkan besarnya lalu lintas perlu diperhatikan hal-hal berikut:
ü  Pertumbuhan penduduk didaerah tersebut.
ü  Pertumbuhan ekonomi.
Perkiraan kebutuhan armada untuk wilayah pelayaran umpan (feederlines) dilakukan dengan cara sebagai berikut:
a)      Penentuan susunan trayek/Rute pelayaran umpan
Metode yang digunakan untuk mendapatkan susunan trayek/rute untuk wilayah pelayaran umpan adalah metode batas (boundary methods). Metode ini merupakan metode dua tahap untuk menemukan suatu rute yang lengkap dengan memanfaatkan teorema batas. N titik ditentukan oleh koordinat mereka X (i), Y(i) untuk i = 1 sampai N dan jarak antar titik i dan titik j ditandai dengan d (i, j) di mana:
            d (i, j) = { X (i) – X } + { Y (i) – Y }

b)      Perkiraan jumlah dan tipe kapal
Jumlah muatan dan tipe kapal merupakan faktor yang penting dalam perhitungan jumlah kapal yang dibutuhkan. Prosedur perhitungan perkiraan jumlah dan tipe kapal adalah sebagai berikut:
1)      Menghitung produksi jasa angkutan kapal untuk suatu rute dalam satu tahun
Kecepatan kapal per jam untuk tipe kapal 100 BRT dan tipe 175 BT adalah 9 knot, serta tipe 250 BRT adalah 10 knot. Besarnya produksi jasa angkutan untuk setiap tiap kapal pada setiap rute dihitung dengan menggunakan rumus:
            PK = JTRPKB x KAK x F
Di mana :
JTRPKB           = jarak tempuh rute pelayaran kapal barang
KAK                = 0,8* TP
TP                    = tipe kapal
F                      = frekuensi jam pelayaran dalam satu tahun ( CD/(SD + PD))
CD                   = jumlah jam pelayaran per tahun
PD                   = jumlah hari berlabuh dalam satu rute ( HB x 24)
HB                   = rata-rata hari berlabuh
JP                     = jumlah pelabuhan yang disinggahi
SD                   = hari berlayar dalam satu pelayaran (JTRPKB / (SP x 24))
SP                    = kecepatan jelajah kapal (knot)
PK                   = produksi kapal
Data pengoperasian armada kapal barang adalah sebagai berikut:
·         Hari berlayar (comission days) dalam 1 tahun = 340 hari.
·         Kapasitas angkut kapal = 8% dari ukuran kapal.
·         Waktu bongkar muat tiap pelabuhan  (port days) = 3 hari.

2)      Menghitung kapasitas arus lalu lintas barang dalam ton mil
Rumus yang digunakan adalah:
            JM = Q (i, j) x D (i, j)
Di mana :         Q (i, j) = muatan dari pelabuhan i ke pelabuhan j.
                        D (i, j) = jarak tempuh pelayaran dari pelabuhan i ke j.

3)      Menghitung jumlah kapal, investasi, dan produktivitas kapal
Rumus yang digunakan adalah:
            JK = JM / PK
Di mana:
JK        = jumlah kapal yang dibutuhkan
TPK     = total produksi jasa angkutan kapal dalam 1 tahun (ton mil)
            = JK x PK
PTK     = produktivitas kapal per tahun
            = ( JM / TPK) x 100
INV     = investasi yang ditanamkan
            = JK x HPK
HPK     = harga kapal

Setelah diperoleh jumlah, investasi, dan produktivitas kapal untuk setiap kapal yang ada, maka dilakukan pemilihan tipe dan jumlah kapal berdasarkan kriteria:
*        Investasi terkecil yang ditanamkan.
*        Produktivitas kapal yang paling besar.
2.5.      Unitisasi Dalam Angkutan Laut
Ø  Cargo Unitization dalam angkutan laut
Unitization muatan meliputi berbagai cara agar sejumlah muatan berukuran kecil digabung jadi satu kesatuan dan dapat dikerjakan sebagai satu kesatuan dengan ukuran-ukuran tertentu. Tujuan dari unitization adalah untuk menyederhanakan proses bongkar / muat dengan menghilangkan pekerjaan bongkar / muat koli-koli yang kecil dan secara demikian dapat mereduksi biaya transport secara menyeluruh (over-all cost).

Ø  Economic and Cargo Unitization
Unitisasi kargo memberikan dampak terhadap jasa angkutan dan pelabuhan / terminal. Dampak unitisasi jasa angkutan terhadap:
·         Angkutan jalan raya menggunakan truck deck/head truck + trailer (beban jalan raya + 10 ton).
·         Kereta api menggunakan gerbong datar dengan tambahan locker.
·         Kapal
Dampak unitisasi jasa pelabuhan / terminal terhadap:
·         Pelabuhan
ü  Draught, dermaga dan lapangan penumpukan.
ü  Peralatan handling yang digunakan.
ü  Manajemen operasi.
·         Terminal pedalaman
ü  Area penumpukan.
ü  Peralatan handling.
ü  Dokumen dan prosedur.

2.6.      Fungsi dan Peranan Pelabuhan Serta Perkembangannya
Pelabuhan merupakan suatu unit transportasi dan unit ekonomi yang berperan untuk merangsang pertumbuhan dan perkembangan perdagangan/ perekonomian yang terdiri atas kegiatan penyimpanan, distribusi, pemrosesan, pemasaran, dan lain-lain.
Pelabuhan menyediakan jasa-jasa bagi kapal dan muatan agar tidak terjadi hambatan dalam pelayaran kapal dan arus barang serta arus penumpang. Dalam memberikan jasa-jasa pelabuhan, maka pelabuhan memiliki beberapa prasarana, yaitu dermaga, terminal, gudang, lapangan penimbunan, navigasi dan telekomunikasi, peralatan bongkar muat, dan perkantoran.
Peranan pelabuhan meliputi sebagai berikut:
·         Untuk melayani kebutuhan perdagangan internasional dari daerah dimana pelabuhan tersebut berada.
·         Membantu berputarnya roda perdagangan dan pengembangan industri regional.
·         Menampung pangsa pasar yang makin meningkat dari lalu lintas internasional, baik transhipment maupun barang.
·         Menyediakan fasilitas transit untuk daerah belakang atau daerah/ negara tetangga.
Di seluruh Nusantara terdapat 336 pelabuhan besar dan kecil yang terdiri atas 51 pelabuhan laut, 38 pelabuhan pantai yang terbuka untuk ekspor-impor, 164 pelabuhan pantai umum, 67 pelabuhan pantai khusus, 16 pelabuhan khusus.
Dari pelabuhan-pelabuhan tersebut hanya 87 pelabuhan yang dikelola oleh PT. Pelabuhan Indonesia, yang dibedakan atas kelas I s/d V pelabuhan, yaitu kelas I sebanyak 4 pelabuhan, kelas II 15 pelabuhan, kelas III 21 pelabuhan, kelas IV 31 pelabuhan, dan kelas V 16 pelabuhan.






BAB III
PENUTUP

3.1.      Kesimpulan
Di Indonesia peranan angkutan laut sangat penting artinya karena indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki 17.508 pulau. Ciri-ciri pengangkutan laut adalah sebagai berikut:
a)      Jumlah muatan barang maupun penumpang yang diangkut dalam jumlah yang besar dan jarak yang jauh.
b)      Biaya angkutan relatif lebih murah atau rendah.
c)      Kecepatan berlayar rendah atau lambat, hanya mencapai 15 – 20 mil laut/jam.
d)      Banyaknya handling cargo yang mengalami beberapa kali pengalihan pada waktu dimuat ke kapal sampai dengan tujuan.
Pelabuhan merupakan suatu unit transportasi dan unit ekonomi yang berperan untuk merangsang pertumbuhan dan perkembangan perdagangan/ perekonomian yang terdiri atas kegiatan penyimpanan, distribusi, pemrosesan, pemasaran, dan lain-lain.
Peranan pelabuhan meliputi sebagai berikut:
·         Untuk melayani kebutuhan perdagangan internasional dari daerah dimana pelabuhan tersebut berada.
·         Membantu berputarnya roda perdagangan dan pengembangan industri regional.
·         Menampung pangsa pasar yang makin meningkat dari lalu lintas internasional, baik transhipment maupun barang.
·         Menyediakan fasilitas transit untuk daerah belakang atau daerah/ negara tetangga.





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar